Home » Home & Living » Perawatan Hewan » 7 Ciri Kucing Rabies yang Perlu Diketahui!

7 Ciri Kucing Rabies yang Perlu Diketahui!

Ciri-Ciri Kucing Rabies

Melihat kucing kesayangan berubah perilaku tentu membuat khawatir, terutama jika perubahan itu mengarah pada gejala penyakit serius seperti rabies. Ciri kucing rabies sering kali muncul secara bertahap dan bisa saja luput dari perhatian jika kamu tidak mengenalinya sejak awal. Padahal, rabies adalah penyakit mematikan yang membutuhkan penanganan cepat untuk mencegah risiko yang lebih lanjut.

Untuk membantu kamu lebih waspada, di artikel ini telah dirangkum berbagai ciri kucing rabies yang perlu diperhatikan. Yuk, baca artikel ini sampai selesai dan temukan informasi penting lainnya yang bisa menyelamatkan kucing kamu!

Ciri-Ciri Kucing Rabies

Ciri-Ciri Kucing Rabies

Rabies adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dan menyerang sistem saraf pusat serta dapat berakibat fatal. Pada kucing, gejala rabies seringkali berkembang cepat dan bisa membahayakan hewan lain maupun manusia. Oleh karena itu, sangat penting bagi kamu untuk mengenali tanda-tandanya sejak dini. Berikut ini beberapa ciri kucing rabies beserta penjelasan lengkapnya.

1. Penurunan Nafsu Makan dan Kesulitan Menelan Makanan

Ciri kucing rabies yang pertama adalah mengalami penurunan nafsu makan akibat kelumpuhan sebagian otot tenggorokan dan rahang. Kucing mungkin terlihat berusaha makan atau minum, tapi langsung memuntahkannya makanan atau minumannya kembali. Selain itu, suaranya juga bisa berubah menjadi serak atau hilang. Kondisi ini menyebabkan dehidrasi dan penurunan berat badan yang drastis.

2. Air Liur Berlebihan dan Busa di Mulut

Salah satu tanda kucing rabies lainnya yaitu produksi air liur berlebih atau hipersalivasi. Jika kucing kamu tiba-tiba mengeluarkan banyak air liur, bahkan berbusa di sekitar mulut, kamu harus segera waspada.

Kondisi ini terjadi karena otot-otot tenggorokan mengalami kelumpuhan sehingga air liur sulit ditelan dan akhirnya menumpuk di mulut. Kucing juga bisa terlihat seperti terus-menerus berusaha menelan, tapi tidak berhasil.

3. Perubahan Perilaku yang Tiba-tiba

Kucing yang terinfeksi rabies biasanya menunjukkan perubahan sikap yang tidak biasa. Misalnya, kucing yang tadinya jinak bisa tiba-tiba menjadi sangat agresif, atau kucing yang biasanya pemalu justru berubah jadi terlalu ramah.

Selain itu, kucing rabies mungkin juga mulai menggigit atau mencakar tanpa alasan yang jelas. Perilaku ini penting untuk kamu waspadai, karena virus rabies bisa menular lewat gigitan atau cakaran hewan yang terinfeksi.

4. Sangat Sensitif terhadap Rangsangan

Kucing yang terinfeksi rabies bisa menjadi sangat peka terhadap suara keras, cahaya terang, atau bahkan sentuhan ringan. Mereka mungkin tiba-tiba melompat, berlari ketakutan, atau bahkan menyerang.

Reaksi berlebihan ini terjadi karena virus rabies mengganggu kerja otak dalam mengatur reaksi terhadap lingkungan sekitar. Selain itu, kucing yang terinfeksi rabies juga bisa menunjukkan kegelisahan yang berlebihan dan menjadi lebih mudah terkejut oleh hal-hal yang biasanya tidak mengganggu mereka. Kondisi ini bisa berlangsung hingga beberapa hari dan jika tidak segera ditangani, bisa berlanjut hingga gejala lainnya muncul.

5. Perubahan Pola Tidur dan Aktivitas

Kucing yang terinfeksi rabies bisa menunjukkan perubahan pola tidur dan aktivitasnya. Mereka bisa menjadi lebih aktif pada waktu yang tidak biasa, seperti berkeliaran di malam hari dengan gelisah. Di sisi lain, ada juga kucing yang menjadi lebih banyak tidur dan kurang bergerak.

Kondisi ini terjadi karena virus rabies memengaruhi sistem saraf pusat sehingga membuat kucing kesulitan tidur dengan tenang. Kucing yang terinfeksi virus rabies bisa merasa cemas dan tidak nyaman, meskipun tidak ada yang mengganggu mereka.

6. Kejang, Kelumpuhan, dan Disorientasi

Pada tahap lanjut, rabies menyerang sistem saraf pusat dan menyebabkan kejang-kejang. Sebelum kejang muncul, kucing biasanya menunjukkan tanda-tanda seperti lesu, kehilangan keseimbangan, atau berjalan dengan cara yang tidak biasa.

Kelumpuhan dimulai dari tenggorokan dan kaki, lalu secara perlahan menyebar ke seluruh tubuh. Saat otot-otot pernapasan terpengaruh, kucing akan kesulitan bernapas dan ini bisa berujung pada kematian. Selain itu, kucing juga bisa mengalami disorientasi, seperti tidak mengenali orang atau benda di sekitarnya dan bertindak seolah-olah bingung atau takut tanpa alasan yang jelas.

7. Gejala Tambahan Lain

Dalam beberapa kasus, kucing rabies juga bisa mengalami demam, kehilangan kontrol otot wajah (seperti kelopak mata atau mulut yang menggantung), serta reaksi berlebihan terhadap rasa sakit.

Baca juga: 10 Cara Merawat Kucing yang Benar Agar Tumbuh Sehat

Cara Mengatasi Gigitan Kucing Rabies

Gigitan kucing dapat meningkatkan risiko infeksi, terutama jika luka yang gigitan cukup dalam. Luka ringan seperti goresan atau cakaran yang hanya menggores permukaan kulit biasanya tidak membahayakan. Untuk luka seperti ini, kamu cukup membersihkannya dengan sabun dan air yang mengalir. Luka tersebut umumnya akan sembuh dengan sendirinya dalam beberapa hari. 

Namun, jika gigitan kucing menyebabkan luka tusuk atau robekan yang cukup dalam, risiko infeksi menjadi lebih tinggi. Kamu perlu segera mencuci luka tersebut dengan sabun dan air bersih sebanyak mungkin. Setelah itu, tutup luka dengan perban steril untuk mencegah kuman atau bakteri masuk lebih dalam luka.

Jika kucing yang menggigit belum mendapatkan vaksin rabies atau kamu ragu dengan status vaksinasinya, segera cari pertolongan medis. Dokter akan menentukan kebutuhan pemberian Post Exposure Prophylaxis (PEP), yaitu pengobatan untuk mencegah infeksi rabies setelah terpapar. PEP harus diberikan dalam waktu yang tepat agar efektif mencegah perkembangan penyakit.

Jika kucing tetap sehat tanpa menunjukkan tanda-tanda rabies selama masa observasi 10 hari, risiko penularan virus rabies dinilai sangat kecil. Namun, kamu perlu memantau perubahan perilaku atau gejala sakit pada kucing tersebut, ya.

Segera cari pertolongan medis jika setelah digigit kucing, kamu mengalami gejala seperti berikut ini:

  • Demam tinggi dan menggigil.
  • Luka mengeluarkan nanah atau cairan yang tidak normal.
  • Pembengkakan di sekitar luka atau kelenjar getah bening.
  • Luka yang terlihat dalam, robek besar, atau tidak kunjung berhenti berdarah.
  • Perubahan perilaku pada kucing, seperti menjadi agresif, gelisah, atau tampak bingung.

Selain itu, jika kamu belum menerima suntikan tetanus dalam lima tahun terakhir, dokter mungkin akan menyarankan vaksinasi ulang untuk mencegah infeksi tetanus dari luka gigitan. Suntikan tetanus menjadi sangat penting jika luka cukup dalam dan terpapar lingkungan yang kotor.

Bagi kamu yang memiliki sistem kekebalan tubuh lemah, seperti penderita diabetes, HIV/AIDS, atau sedang menjalani terapi imunosupresif, sebaiknya segera mendapatkan pemeriksaan medis untuk menghindari komplikasi yang lebih serius.

Jika kamu mengalami keluhan atau perubahan kondisi setelah gigitan, segeralah mencari bantuan medis, ya.

Apa Ciri-Ciri Rabies pada Manusia?

Apa Ciri-Ciri Rabies pada Manusia?

Gigitan kucing yang terinfeksi rabies bisa menularkan virus berbahaya kepada manusia. Oleh karena itu, penting untuk mengenali gejala rabies sejak awal agar bisa segera mendapatkan pengobatan yang tepat. Di bawah ini terdapat penjelasan mengenai ciri rabies pada manusia yang perlu kamu ketahui.

1. Masa Inkubasi Infeksi Rabies

Masa inkubasi rabies adalah waktu sejak virus masuk ke dalam tubuh hingga gejala pertama muncul. Pada masa ini, kamu biasanya belum menunjukkan tanda-tanda sakit. Secara umum, masa inkubasi berlangsung antara 2-3 bulan, tapi dalam beberapa kasus, gejala bisa muncul lebih cepat, bahkan hanya dalam satu minggu. Faktor seperti lokasi gigitan, kekebalan tubuh, dan jenis virus rabies dapat memengaruhi seberapa cepat gejala mulai terasa.

2. Gejala Awal Infeksi Rabies

Pada tahap awal, rabies belum menyerang sistem saraf. Gejalanya mirip seperti flu sehingga sering tidak disadari. Beberapa tanda yang mungkin muncul antara lain demam tinggi, sakit kepala, batuk, mual, muntah, kehilangan nafsu makan, kecemasan, serta sensasi gatal, nyeri, atau kesemutan di bekas gigitan. Gejala ini biasanya berlangsung 2–10 hari sebelum berlanjut ke tahap yang lebih serius.

3. Gejala Lanjutan Infeksi Rabies

Saat virus mulai menyerang otak dan sistem saraf, gejala neurologis pun muncul. Kamu mungkin mengalami kebingungan, agresivitas, kejang, kesulitan bernapas, hingga produksi air liur berlebih. Ada juga gejala khas seperti takut terhadap air (hidrofobia) atau cahaya (fotofobia). Rabies bisa berkembang menjadi dua tipe, yaitu rabies agresif yang ditandai perubahan perilaku ekstrem, dan rabies paralitik yang menyebabkan kelumpuhan bertahap.

4. Koma dan Kematian

Jika rabies sudah mencapai tahap lanjut, pasien bisa mengalami koma dalam waktu singkat. Tanpa alat bantu pernapasan, kondisi ini hampir selalu berujung pada kematian, biasanya antara hari ke-4 hingga hari ke-7 setelah koma terjadi. Kasus rabies agresif umumnya berkembang sangat cepat sehingga membutuhkan penanganan darurat secepat mungkin.

Memahami ciri kucing rabies sangat penting agar kamu bisa segera mengambil langkah pencegahan yang tepat. Perubahan perilaku, keluarnya air liur berlebih, hingga kejang merupakan tanda-tanda yang tidak boleh diabaikan. Jika menemukan gejala tersebut, segera konsultasikan ke dokter hewan untuk memastikan kesehatan kucingmu.

Selain mewaspadai ciri kucing rabies, pastikan kamu juga menjaga kesehatannya dengan memberikan makanan yang bernutrisi. Kini, kamu bisa belanja makanan kucing dengan mudah dengan menggunakan aplikasi Alfagift, lho! Banyak pilihan produk terbaik yang siap dikirim langsung ke rumahmu karena Alfagift memiliki layanan pengiriman instan dan tentunya bebas ongkir! Yuk, download Alfagift sekarang dan lengkapi kebutuhan anabul kesayanganmu!

Author