Lactose intolerance atau intoleransi laktosa adalah kondisi umum yang terjadi ketika tubuh kesulitan mencerna laktosa, yaitu jenis gula yang terdapat dalam susu dan produk olahannya.
Kondisi ini dapat menyebabkan berbagai gejala tidak nyaman pada sistem pencernaan, seperti diare, perut kram, maupun muntah-muntah. Bagi kamu yang penasaran mengenai apa itu lactose intolerance dan bagaimana cara mengetahuinya, artikel ini tepat untuk kamu. Simak artikel di bawah ini untuk penjelasan detailnya!
Apa Itu Lactose Intolerance?
Lactose intolerance adalah gangguan pencernaan yang terjadi ketika usus tidak mampu mencerna laktosa. Laktosa adalah sejenis gula yang banyak terdapat dalam susu hewani dan produk olahannya, seperti keju, es krim, yogurt, dan mentega.
Untuk memecah laktosa menjadi gula yang lebih sederhana, usus kecil memerlukan enzim yang disebut laktase. Enzim ini bertugas memecah laktosa menjadi dua gula sederhana, yaitu glukosa dan galaktosa. Setelah laktosa dipecah menjadi gula sederhana ini, tubuh dapat menyerapnya ke dalam aliran darah untuk dijadikan sumber energi.
Namun, pada orang dengan intoleransi laktosa, tubuh mereka tidak bisa memproduksi cukup enzim laktase. Akibatnya, laktosa tidak dapat dicerna dan diserap dengan baik. Laktosa yang tidak tercerna ini akan bergerak ke usus besar, di mana bakteri usus akan memfermentasinya.
Proses fermentasi ini menghasilkan gas dan asam yang menyebabkan berbagai gejala masalah pencernaan, seperti kembung, perut bergas, diare, dan terkadang nyeri perut.
Gejala-gejala lactose intolerance adalah gangguan pencernaan yang terjadi ketika usus tidak mampu mencerna laktosa. muncul dalam waktu 30 menit hingga 2 jam setelah mengonsumsi produk susu. Tingkat keparahan gejala bisa bervariasi. Tergantung pada seberapa banyak laktosa yang dikonsumsi dan seberapa sedikit enzim laktase yang diproduksi tubuh.
Beberapa orang dengan intoleransi laktosa masih bisa mengonsumsi sedikit produk susu tanpa mengalami gejala yang signifikan. Sementara yang lain mungkin harus menghindari produk susu sepenuhnya.

Penyebab Lactose Intolerance
Lactose intolerant dapat disebabkan karena 3 jenis, yaitu inteloransi primer, sekunder, dan bawaan. Berikut ini penjelasan lengkapnya:
Intoleransi Laktosa Primer
Intoleransi laktosa primer adalah jenis intoleransi laktosa yang paling umum. Kondisi ini biasanya berkembang secara bertahap setelah masa kanak-kanak. Pada anak-anak, produksi enzim laktase biasanya cukup tinggi, sehingga mereka dapat mencerna laktosa dalam susu tanpa masalah.
Namun, seiring bertambahnya usia, konsumsi susunya cenderung berkurang. Akibatnya, produksi enzim laktase dalam usus kecil juga menurun secara alami.
Pada orang dengan intoleransi laktosa primer, penurunan produksi enzim laktase ini lebih signifikan. Saat produksi enzim laktase menurun, kemampuan tubuh untuk mencerna laktosa dalam susu juga berkurang.
Hal ini menyebabkan laktosa yang tidak tercerna bergerak ke usus besar, di mana difermentasi oleh bakteri usus. Proses fermentasi ini menghasilkan gas dan asam, yang kemudian menyebabkan gejala-gejala seperti kembung, perut bergas, diare, dan nyeri perut.
Intoleransi Laktosa Sekunder
Bentuk lain dari lactose intolerance adalah intoleransi laktosa sekunder. Kondisi ini terjadi ketika usus kecil mengurangi produksi enzim laktase akibat penyakit, cedera, atau operasi yang melibatkan usus kecil. Intoleransi laktosa sekunder berbeda dari intoleransi laktosa primer yang berkembang secara alami seiring bertambahnya usia.
Beberapa penyakit yang dapat menyebabkan intoleransi laktosa sekunder meliputi infeksi usus, penyakit Celiac, pertumbuhan bakteri berlebihan di usus kecil, dan penyakit Crohn.
Infeksi usus, seperti gastroenteritis, dapat merusak lapisan usus kecil dan mengurangi produksi laktase.
Gejala intoleransi laktosa sekunder sama dengan gejala intoleransi laktosa primer, termasuk kembung, perut bergas, diare, dan nyeri perut setelah mengonsumsi produk susu. Namun, pada intoleransi laktosa sekunder, gejala-gejala ini dapat muncul secara tiba-tiba setelah penyakit atau cedera.
Pengobatan untuk intoleransi laktosa sekunder sering melibatkan penanganan gangguan yang mendasarinya. Misalnya, jika intoleransi laktosa disebabkan oleh penyakit Celiac, mengikuti diet bebas gluten dapat membantu memulihkan lapisan usus kecil dan meningkatkan produksi laktase.
Mengobati infeksi usus atau mengendalikan penyakit Crohn dengan obat-obatan dan perubahan gaya hidup juga dapat membantu mengurangi gejala intoleransi laktosa.
Intoleransi Laktosa Bawaan
Intoleransi laktosa bawaan adalah bentuk intoleransi laktosa yang disebabkan oleh kelainan genetik. Kondisi ini sangat langka dan terjadi ketika kedua orang tua menurunkan varian gen tertentu kepada anak mereka yang menyebabkan kekurangan enzim laktase sejak lahir. Intoleransi laktosa bawaan disebut juga sebagai alaktasia kongenital.
Pada orang dengan intoleransi laktosa bawaan, tubuh tidak memproduksi enzim laktase yang diperlukan untuk memecah laktosa. Gula yang ditemukan dalam susu dan produk olahan susu. Akibatnya, bayi yang lahir dengan kondisi ini tidak dapat mencerna laktosa sejak awal kehidupan.
Gejala intoleransi ini, biasanya muncul setelah bayi mulai mengonsumsi susu, baik itu susu formula yang berbasis susu sapi maupun ASI karena laktosa juga terdapat dalam ASI.
Gejala Lactose Intolerance
Gejala lactose intolerance adalah muncul antara 30 menit hingga 2 jam setelah mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung laktosa. Gejala-gejala tersebut meliputi:
- Sering buang angin
- Perut kembung
- Kram atau rasa sakit di perut bisa terjadi akibat gas dan fermentasi laktosa yang tidak tercerna.
- Diare
- Suara gemuruh di perut sering terjadi akibat gerakan gas dan cairan di dalam usus.
- Mual dan muntah.
Tiap penderita intoleransi laktosa dapat mengalami gejala yang berbeda-beda. Tingkat keparahan gejala juga bergantung pada jumlah laktosa yang dikonsumsi dan seberapa sedikit enzim laktase yang diproduksi oleh tubuh.
Misalnya, seseorang yang memiliki intoleransi laktosa ringan mungkin hanya mengalami gejala ringan setelah mengonsumsi sedikit laktosa. Sementara seseorang dengan intoleransi laktosa yang lebih parah mungkin mengalami gejala yang lebih berat setelah mengonsumsi jumlah laktosa yang sama.

Cara Mengetahui Lactose Intolerance
Lactose intolerance atau intoleransi laktosa adalah kondisi di mana tubuh kesulitan mencerna laktosa, jenis gula yang terdapat dalam susu dan produk olahannya. Untuk mengetahui apakah kamu mengalami intoleransi laktosa, berikut ini cara yang bisa kamu lakukan:
Perhatikan Gejala Setelah Mengonsumsi Produk Olahan Susu
Gejala intoleransi laktosa biasanya muncul dalam waktu 30 menit hingga 2 jam setelah mengonsumsi susu atau produk olahan susu. Gejala yang umum, seperti diare, perut kembung, kram, mual, sering buang angin. Apabila kamu mengalami gejala tersebut, kemungkinan kamu terkena intoleransi laktosa.
Lakukan Uji Eliminasi Laktosa
Uji eliminasi laktosa adalah metode yang efektif untuk menentukan apakah kamu mengalami intoleransi laktosa. Uji ini dilakukan dengan menghindari semua produk yang mengandung laktosa selama beberapa minggu.
Apabila kamu membaik selama periode ini dan kemudian muncul kembali saat kamu mengonsumsi laktosa. Hal itu akan menjadi indikasi kuat, kamu terkena intoleransi laktosa atau tidak.
Konsultasi dengan Dokter
Apabila kamu mendiagnosa diri kamu sendiri mengalami intoleransi laktosa, kamu bisa berkonsultasi dengan dokter. Dokter akan menanyakan riwayat kesehatan dan gejala yang kamu alami untuk mendapatkan gambaran yang jelas mengenai kondisimu. Untuk memastikan diagnosis intoleransi laktosa, dokter mungkin akan melakukan beberapa tes:
- Uji Toleransi Laktosa: kamu akan diminta untuk meminum larutan yang mengandung laktosa, kemudian kadar glukosa darah kamu akan diukur beberapa jam kemudian. Jika kadar glukosa tidak naik secara signifikan, berarti tubuh kamu tidak mencerna laktosa dengan baik.
- Uji Hidrogen Napas: kamu akan diminta untuk meminum larutan yang mengandung laktosa, kemudian napas kamu akan diuji untuk mengetahui kadar hidrogen. Kadar hidrogen yang tinggi menandakan bahwa laktosa tidak tercerna dengan baik dan difermentasi oleh bakteri di usus besar.
- Uji Keasaman Tinja: Uji ini mengukur tingkat keasaman tinja. Pada orang dengan intoleransi laktosa, tinja cenderung lebih asam karena adanya asam laktat yang dihasilkan oleh bakteri di usus besar.
Melalui kombinasi dari riwayat kesehatan, gejala yang dialami, dan hasil tes-tes tersebut. Dokter dapat memastikan apakah kamu mengalami intoleransi laktosa dan memberikan saran pengelolaan yang tepat.
Tes Genetik
Tes genetik adalah salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi apakah seseorang memiliki varian gen tertentu yang terkait dengan intoleransi laktosa.
Meskipun tidak selalu diperlukan untuk diagnosis, tes ini dapat memberikan informasi yang sangat spesifik dan berguna. Terutama dalam kasus di mana diagnosis klinis tidak cukup jelas atau ketika intoleransi laktosa diduga sebagai kondisi bawaan.
Proses tes genetik biasanya melibatkan pengambilan sampel DNA, yang dapat diperoleh dari darah, air liur, atau sel-sel dari dalam pipi (melalui swab pipi). Sampel ini kemudian dianalisis di laboratorium untuk mencari varian gen yang diketahui terkait dengan intoleransi laktosa. Varian gen ini biasanya berada pada gen LCT (laktase) atau gen MCM6 yang mengatur ekspresi gen LCT.

Nah itu dia, informasi mengenai lactose intolerance. Bagi kamu yang mengalami gejala di atas, sebaiknya kamu langsung berkonsultasi ke dokter untuk lebih jelasnya. Bagi kamu yang memiliki alergi susu, kamu bisa mengganti protein dengan sayuran segar di Alfagift. Yuk, download aplikasinya dan belanja sekarang!
