Mastitis adalah radang pada jaringan payudara dan biasa terjadi pada ibu menyusui, khususnya pada 6-12 minggu pertama setelah persalinan. Radang kelenjar susu ini biasanya terjadi pada salah satu payudara saja, meski tidak menutup kemungkinan kedua payudara juga dapat terserang. Lalu apa itu mastitis dan bagaimana mengatasinya?
Mastitis dapat membuat ASI sedikit keluar, sehingga aktivitas menyusui menjadi terhambat. Meski begitu, apabila terjadi mastitis kegiatan menyusui tetap dilakukan karena kondisi ini berbahaya untuk bayi. Pada artikel ini, kami akan membahas mengenai apa itu mastitis, penyebab, gejala, dan cara mengatasinya. Simak informasi di bawah ini untuk lebih detailnya!
Apa Itu Mastitis?

Sumber: bswhealth.com
Mastitis atau lactating mastitis merupakan radang atau inflamasi pada jaringan payudara. Radang ini biasanya terjadi pada ibu menyusui, terutama 6-12 minggu pertama setelah persalinan.
Meski begitu, non-lactating mastitis juga terjadi pada ibu tidak menyusui meski ini jarang terjadi. Radang ini dapat menimbulkan rasa nyeri, sehingga ibu yang terkena mastitis akan menderita setiap kali memberikan ASI kepada bayi.
Mastitis tidak berbahaya terhadap kondisi bayi, sehingga kamu harus tetap menyusuinya. Sebab, bayi membutuhkan ASI yang mengandung senyawa antibakteri. Tujuannya untuk melindungi dari infeksi. Kegiatan menyusui juga bisa mempercepat penyembuhan radang kelenjar susu ini.
Penyebab Mastitis

Sumber: Getty Images/Science Photo Libra/VERONIKA ZAKHAROVA
Mastitis dapat terjadi pada ibu menyusui, khususnya pada 6-12 minggu pertama setelah bayi tersebut lahir. Mastitis juga dapat terjadi pada ibu tidak menyusui dan menopause. Berikut ini penyebabnya:
1. Infeksi Bakteri
Mastitis disebabkan karena adanya bakteri, meski bakteri tersebut tidak berbahaya. Bakteri tersebut dapat menimbulkan infeksi pada jaringan payudara karena kulit sekitar area puting mengalami luka.
Kerusakan areola ataupun puting bisa menyebabkan mastitis karena isapan bayi yang tidak sesuai atau salah menggunakan pompa ASI.
Tidak hanya itu saja, bakteri tersebut juga dapat berpindah dari mulut bayi, terutama apabila terdapat luka pada puting. Hal ini akan mengakibatkan bakteri bisa masuk dengan mudah, sehingga bisa memicu terjadinya infeksi di saluran susu. Infeksi juga dapat terjadi apabila ASI tersumbat di dalam saluran susu.
2. Saluran Susu Tersumbat
Sebelum dikeluarkan dari puting, ASI melalui serangkaian proses panjang sampai akhirnya dapat diberikan kepada bayi.
ASI yang diproduksi oleh kelenjar payudara, termasuk ASI eksklusif akan mengalir melalui saluran ASI sampai akhirnya mencapai puting susu. Meski begitu, saluran ASI tidak selalu lancar. Kadang saluran ini tersumbat, membuat ASI menumpuk di dalam payudara.
Semakin banyak ASI yang menumpuk, semakin tinggi tekanan yang diberikan. Hal ini dapat menyebabkan terjadi peradangan.
Penyumbatan saluran susu dapat terjadi karena beberapa faktor, berikut ini faktor-faktornya:
- Pelekatan bayi yang tidak tepat pada payudara. Hal ini dapat dipengaruhi oleh masalah bayi, seperti tongue-tie atau kelainan pada lidah.
- Kebiasaan menyusui pada satu payudara saja, sehingga produksi ASI yang diproduksi oleh kelenjar susu tidak dikeluarkan karena tidak disusui. Hal ini membuat ASI tersumbat.
- Payudara tidak sepenuhnya kosong saat menyusui.
3. Penyebab Mastitis Pada Ibu Tidak Menyusui dan Menopause
Mastitis juga bisa menyerang ibu yang tidak menyusui maupun menopause. Mastitis periductal dapat disebabkan karena infeksi pada payudara di sekitar puting. Jenis mastitis satu ini biasanya dialami oleh wanita berusia 20-30 tahun.
Mastitis ektasia duktus terjadi pada wanita menopause. Sebab, saluran di dalam puting menjadi lebih lebar dan pendek seiring bertambahnya usia.
Implan payudara juga bisa menyebabkan mastitis dengan resiko 1 sampai 2.5 persen. Hal ini berdasarkan Study Late Infection of a Breast Prosthesis with Staphylococcus aureus in a Healthy Woman: a Case Report.
Gejala Mastitis Laktasi
Gejala atau ciri-ciri mastitis hampir sama dengan gejala flu, seperti menggigil, demam, dan tubuh terasa dingin. Meski begitu, ada beberapa ibu yang tidak mengalami gejala tersebut. Berikut ini gejala mastitis laktasi yang perlu kamu perhatikan:
1. Payudara Membengkak
Ukuran payudara biasanya membesar saat menyusui, namun bagi yang terkena mastitis akan melebar karena adanya pembengkakan.
2. Nyeri Sekitar Payudara
Wanita yang mengalami mastitis akan merasakan nyeri pada payudara. Nyeri ini disebabkan karena infeksi pada saluran susu. Rasa nyeri ini akan terjadi kapan pun, terutama saat sedang menyusui.
3. Payudara Mengalami Kemerahan
Gejala berikutnya adalah muncul benjolan dan pembengkakan pada payudara. Benjolan tersebut juga bisa disertai dengan kemerahan yang mirip dengan ruam iritasi. Bahkan, saat disentuh, beberapa bagian payudara terasa panas.
4. Puting atau Kulit Payudara Mengalami Luka
Mastitis yang disebabkan oleh infeksi bakteri seringkali muncul karena luka di sekitar puting atau kulit payudara. Luka atau celah ini membuat bakteri berpindah dan masuk ke dalam payudara secara mudah.
5. Muncul Benjolan Pada Payudara
Menyusui tidak membuat payudara sakit, itu hanya mitos belaka dalam dunia ibu menyusui. Namun, apabila terdapat benjolan pada payudara yang menimbulkan rasa sakit, itu bisa menjadi ciri-ciri wanita terkena mastitis.
Cara Mengatasi Mastitis
Sumber: iStock
Mastitis adalah radang atau inflamasi pada jaringan payudara. Kondisi ini perlu segera diobati agar ibu bisa merasa nyaman saat menyusui anaknya dan mencegah terjadinya komplikasi yang serius. Berikut ini cara mengatasi mastitis:
1. Obat Anti Nyeri dan Antibiotik
Mastitis dapat diatasi dengan memberikan antibiotik yang aman bagi ibu menyusui dan bayinya. Tujuannya untuk mengurangi infeksi bakteri. Kamu bisa memberikan ibuprofen dan parasetamol untuk mengurangi rasa nyeri.
Namun, kamu perlu hati-hati apabila mengonsumsi obat tersebut saat menyusui. Sebab, obat tersebut memiliki dampak negatif terhadap bayi. Oleh karena itu, sebelum minum obat apapun sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter dan mengikuti anjurannya dengan baik.
2. Direct Breastfeeding
Mengobati mastitis disarankan untuk memperbaiki aliran ASI dengan menyusui secara langsung sebanyak mungkin. Apabila terasa sakit, kamu dapat meredakan dengan menggunakan mengompres atau melakukan pijatan pada payudara sebelum dan sesudah menyusui.
Namun, apabila kamu merasa nyeri yang hebat, kamu bisa memompa ASI atau menggunakan breast pump.
3. Pompres Payudara
Mastitis menyebabkan pembengkakan dan peradangan pada payudara. Untuk mengatasi hal tersebut, kamu dapat mengompres payudara dengan air dingin. Kamu bisa menggunakan kain steril yang telah didinginkan maupun bahan alami, seperti sayur kol dingin.
Kompres payudara yang mengalami pembengkakan selama 20 menit sebanyak tiga kali dalam sehari dengan menggunakan air dingin. Sebab, air dingin dapat membantu meredakan peradangan dan pembengkakan pada payudara.
4. Konsumsi Air Putih yang Cukup
Saat mengalami mastitis, penting bagi ibu menyusui untuk memastikan asupan air putih yang cukup. Tujuannya agar tubuh tetap terhidrasi dengan baik. Apabila cairan tubuh terpenuhi, proses menyusui dapat menjadi lebih optimal.
Dengan menyusui, potensi penyumbatan atau penumpukan ASI pada saluran ASI di payudara dapat lebih mudah teratasi. Hal ini tentu bisa mengatasi mastitis.
Kesimpulan
Demikian informasi mengenai apa itu mastitis, penyebab, gejala, dan cara mengatasinya. Bagi kamu yang belum menyusui atau sedang menyusui untuk memperhatikan kebersihan area payudara agar tidak ada bakteri jahat yang menempel.
Dapatkan berbagai perlengkapan pendukung untuk ibu menyusui seperti kantong asi dan nipple cream di aplikasi Alfagift. Kamu bisa dapatkan berbagai promo menarik setiap harinya dan berbelanja hemat waktu dari rumah. Yuk, download aplikasinya sekarang!
